Ads Top

Balai Diklat Padang Cetak 70 Wirausaha Baru



Balai Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Padang kembali cetak 70 wirausahawan. Melalui pelatihan 3 in 1 wirausahawan ini diberi pelatihan membuat hiasan busana dengan mesin border manual dimana nanti akan menjadi bekal ketika berada di tengah masyarakat.

Kepala BDI Padang, Joni Afrizon, mengatakan, dengan adanya pelatihan ini akan banyak membawa dampak positif dan membantu mengembangkan perekonomian masyarakat. Serta, juga membantu industri yang ada karena industri juga membutuhkan Sumber Daya Manusia
(SDM) yang berkompeten yang tidak mengeluarkan biaya produksi. Dengan harapan industri akan meningkatkan produktivitas dan kualitasnya dengan SDM yang berkompetensi.

"Sehingga produk industri yang dihasilkan memiliki daya saing baik di dalam maupun di luar negeri, ini yang diharapkan dalam rangka membangun tenaga kerja di sektor industri," ujarnya saat didampingi deh Kasubag TU BDI, Sri Mul-yati, Sekda Kerinci Afrizal.

Jumlah peserta Diklat 3 in 1 kali ini sebanyak 70 orang dari Kabupaten Kerinci dan Kota Padang. Dimana pelatihan dilaksanakan dari 11 April hingga 10 Mei 2017 di BDI Padang.

Sebelumnya, sesuai dengan aturan yang telah dikeluarkan kementrian agar ada link antara Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan industri. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan lulusan yang berkompetensi dan siap bersaing di pasar global.

Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Industri Kementrian Perindustrian, Mujiyono, mengatakan, Sumbar khususnya Kota Padang dihimbau agar mempersiapkan diri menjadi provinsi yang siap melahirkan wirausaha setiap tahunnya. Saat ini baru diluncurkan di Jawa Timur ada 50 perusahaan industri dengan binaan 234 SMK di Jatim. Selanjutnya, juga akan ada di Jawa Tengah 107 industri akan membina 375 SMK, dan dalam peluncuran ini akan diikat perjanjian keijasama antara kepala SMK dan industri.

"Apa yang harus dilakukan industri dan apa yang dilakukan SMK, jadi kita harus melakukan pembinaan dulu program studi yang ada kaitannya dengan industri. Penyelarasan kurikulum, mana kompetensi industri yang belum masuk ke SMK," ujarnya, Selasa (11/4) usai menghadiri Diklat 3 in 1 pembuatan hiasan busana dengan mesin bordir manual angkatan V di Balai Diklat Industri (BDI) Padang.

Bsnerapan aturan tersebut katanya, juga dikaji terlebih dahulu peralatan yang dibutuhkan untuk materi kurikulum sisipan di SMK, minimal harus memiliki peralatan dasar. Selain itu, juga harus dibenahi apakah SMK mempunyai guru produktifnya. SMK ini nanti juga akan ditindaklanjuti dengan magang di industri tersebut, termasuk juga gurunya dimagangkan di industri tersebut. Tugas industri nanti mengeluarkan sertifikat untuk sis^va dan guru yang magang, dan mata pelajaran yang disisipkan sudah dilakukan uji kompetensi.

"Jadi, pembenahannya dilakukan secara menyeluruh karena kondisi SMK saat ini mulai dari peralatan laboratorium, hingga work shop sangat terbatas bahkan sudah ketinggalan dari segi jumlah dan teknologinya. Termasuk juga dengan keterbatasan gurunya, industri diminta lagi untuk membangun teaching sectory, workshop, trening center untuk menfasilitasi siswa dan guru yang magang disana," ujarnya.

Bagi industri yang membina SMK dan membangun training center atau workshop untuk siswa dan guru magang, nanti pemerintah akan memberikan intensif apa yang tepat untuk industri. Namun. ini baru terbatas untuk industri besar dulu, seperti di Jateng, Jabar, Jambi dan beberapa provinsi lainnya.


"Di Sumbar untuk saat ini belum ada, karena industri kecil belum bisa melakukan pembinaan. Bahkan industri kecil itu sendiri masih butuh pembinaan, makanya Sumbar persiapkan saja dulu karena nanti akan ditindaklanjuti juga agar perkembangan ekonomi masyarakat semakin bagus," ujarnya Chandra Ekajaya pemilik warun obat penggugur kandungan papanaya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.